Warga Dusun Nakreu Keluhkan Krisis Air Bersih, Mata Air dan Pipa Bantuan Hancur Diterjang Longsor

kondisi bak air yang rusak terbawa longsor

Dusun Nakreu, Desa Naukekusa, Kecamatan Laenmanen – Hampir lima bulan pasca-bencana tanah longsor yang melanda pada pertengahan Mei 2025, ratusan warga Dusun Nakreu A, Nakreu B, Nakreu C dan Dusun Rafau A desa Bonibais, Desa Naukekusa, Kecamatan Laenmanen, Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), masih harus bergulat dengan krisis air bersih yang parah. Sumber kehidupan utama mereka, sebuah mata air, bersama dengan infrastruktur bantuan pemerintah, hancur tertimbun material longsor.

Akibatnya, puluhan kepala keluarga di dusun terpencil ini terpaksa menjalani kehidupan dengan keterbatasan air yang ekstrem. Aktivitas harian seperti mandi, mencuci, dan memasak kini menjadi beban berat yang menyita waktu dan tenaga.

“Kondisi kami sangat memprihatinkan. Sumber air yang kami andalkan selama puluhan tahun hilang sama sekali. Pipa-pipa yang baru setahun lalu dipasang pemerintah juga rusak dan putus semua. Untuk air minum saja, kami harus membeli dengan harga mahal atau berjalan jauh,” ujar Yohanes Bere, salah seorang warga Dusun Nakreu, ketika ditemui di kediamannya, Selasa (27/5/2025).

Warga yang tidak mampu membeli air terpaksa mengambil air dari mata air terdekat yang debitnya sangat sedikit dan berjarak 250 meter dengan medan yang terjal karena daerah tanahnya juga sudah terbelah akibat longsor. Mereka khawatir air yang tidak higienis ini dapat memicu wabah penyakit, seperti diare dan gangguan kulit, terutama pada anak-anak karena banyaknya warga yang menggunakan satu mata air, sehingga kebersihan air tidak dikontrol dengan baik.

Kepala Desa Naukekusa, Anselmus Dully Berek, mengakui kesulitan yang dialami warganya. Ia menjelaskan bahwa pihaknya telah mengajukan laporan dan permohonan bantuan darurat ke Pemerintah Kabupaten Malaka.

“Kami sudah menyampaikan laporan resmi mengenai kondisi darurat ini. Yang kami butuhkan saat ini adalah bantuan air bersih darurat, seperti water truck, dan solusi jangka panjang untuk membangun kembali sumber air atau sistem perpipaan yang rusak,” jelas Dully.

Sementara menunggu realisasi bantuan, warga berharap agar pemerintah tidak hanya memberikan janji, tetapi juga tindakan nyata yang dapat segera meringankan penderitaan mereka.

“Kami mohon perhatian dari pemerintah yang lebih tinggi. Bantuan sembako penting, tapi yang paling utama saat ini adalah air bersih. Tanpa air, hidup kami seperti terhenti,” tutur Maria Trisila Niis, warga lainnya, dengan suara lirih.

Krisis air bersih di Dusun Nakreu ini menyoroti kembali kerentanan infrastruktur dasar di daerah rawan bencana dan pentingnya penanganan pasca-bencana yang cepat dan berkelanjutan untuk memulihkan hak dasar masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kabar Sekolah Lainnya

Pengumuman

PENGIRIMAN NAMA - NAMA PENERIMAA...
RAPAT DEWAN GURU DALAM RANGKA RE...

Prestasi

Lomba Lari
Lomba Melukis